Tak banyak yang mampu diceritakan dalam kisah Dealovy sebulan kemarin. Namun sebulan ke depan dan seterusnya, begitu banyak “pe-er” dan impian yang ingin aku wujudkan dan tunjukkan ke Uda, “Uni bisa!”. Yup..selama lima hari terakhir, kata semangat ini kini selalu terngiang-ngiang di telingaku dan selalu menjadi tameng jika percikan api mulai muncul.
Memang tidak mudah untuk bisa meraih kondisi normal sewajarnya setelah apa yang selalu terjadi selama ini. Ketegasan Uda waktu itu mampu membuat diriku menciut, tidak lagi memikirkan keegoisan sebagai cewek dan memaksakan kehendak. Aku coba berpikir dan bertingkah laku dengan cara Uda sekarang. Dan satu yang terpenting, aku harus mengurangi ketergantunganku kepada diri Uda. Uni bisa!
Meski ada pahitnya, manis yang kurasakan bersama saat Uda ulang tahun di awal bulan, semacam terapi yang mampu membuat kami berdua untuk berpikir jernih jika ada ganjalan. Tak peduli berapa kali berontaknya Uda, cepat marahnya Uda yang sekarang (dulu ‘ga pernah), tidak aku tanggapi dengan emosi lagi tapi memakluminya sebagai bentuk ekspresi “sensitivitas” Uda akan trauma yang berkepanjangan. Uni bisa!
Satu yang sekarang selalu menjadi kebiasaanku di saat sepi mulai menyerang, aku berbicara sendiri dengan foto Uda. Ganjalan, curhat, happy, introspeksi, semua tertuang disana untuk disampaikan nanti. Meski mungkin tak tersampaikan juga, aku yakin jika batinku kuat saat itu, bukan tidak mungkin lagi chemistry-lah yang akan sampai ke Uda yang jauh disana. Cara lain berkomunikasi. Uni bisa!
Uni bisa! Uni bisa! Uni bisa!
Note for Uda : Thanks for being my first kiss,Cha :-*














